Kotak pelat Kessing Lembah Ushkari, 1891

Lorong batu basah di desa Ushkari menuju gugus menara batu; satu menara dekat terpotong tepi kanan, awan rendah menempel di puncak.
Nino Dadiani berdiri di lorong, mengangkat pelat kaca di depan wajahnya.

Feudspire

Lembah Ushkari, 1891

Atelier
A. Kessing, Tiflis

Orang-orang di pelat kaca itu mati sesuai urutan nomornya.

12 Oktober 1891, lapangan Lashkhet

Pelat No. 2. Lima keluarga

Mereka mau berdiri dalam satu foto, asal tidak bersebelahan dengan musuh. Dua minggu kemudian, kelompok paling kiri kehilangan orang lebih dulu.

Di Feudspire tiap keluarga mengingat perbuatanmu: siapa yang kamu bela, siapa yang kamu tembak, garam siapa yang kamu tolak.

Foto kelompok: tiga belas warga dari lima keluarga berdiri berkelompok di lapangan berbatu basah, lima menara batu di belakang mereka. No. 2

Geser foto ke samping untuk melihat kelima keluarga.

14 Oktober 1891, halaman Dadiani Tower

Pelat No. 3. Juru damai

Kamu Nino Dadiani, juru damai keluarga. Kamu dikirim ke dewan setiap kali darah sudah tumpah dan kata-kata masih bisa menahan pembunuhan berikutnya.

Ia minta difoto tanpa senyum. Ke dewan ia datang tanpa senjata. Di jalan, ia membawa empat.

Dadiani Tower di akhir hari mendung, satu lilin menyala di jendela teratas, halaman batu basah di depannya.
Nino Dadiani berdiri tegak, tangan di gagang pedang, pistol flintlock di sabuk, tali panjat di bahu, dan kamera pelat di pinggang.
No. 3

    16 sampai 18 Oktober, dari punggung kuda

    Tiga lembah, satu celah es

    Kabut naik setiap pukul empat. Empat puluh menara berdiri di antara tiga lembah dan satu celah gletser, dan semuanya bisa kamu panjat.

    Ushkari Basin: dasar lembah lebar dengan desa menara di bukit, sungai abu bercabang, tumpukan jerami, dan seorang penunggang kuda di jalan.
    Tetua Bekhvani, berjanggut putih dengan jubah kulit domba dan tongkat panjang.

    Ushkari Basin

    Dasar lembah yang lebar, lima desa menara, sungai abu yang bercabang. Di sini kuda lebih cepat dari kabar.

    Tetua Bekhvani menghitung hutang dengan jari. Tolak garamnya, dan ia ingat sampai musim semi.

    Blackspruce Valley: ngarai sempit penuh cemara gelap, sungai deras di bawah jembatan kayu, dua menara di punggung bukit.
    Tetua Ozhgali, perempuan tua berkerudung hitam dengan belati perak di pinggang.

    Blackspruce Valley

    Ngarai sempit, cemara rapat, jembatan kayu yang hanya muat satu orang. Tempat menyergap yang baik, tempat mundur yang buruk.

    Tetua Ozhgali tidak lupa janji yang diucapkan di depan saksi. Apalagi yang dilanggar.

    Ladder Valley: lereng berteras bersalju menanjak ke desa menara tertinggi, jalur berkelok di salju, pagar kayu di depan.
    Tetua Tserani, berkumis kelabu dengan topi bulu tinggi dan senapan flintlock di bahu.

    Ladder Valley

    Teras bersalju yang menanjak ke desa tertinggi. Saat musim dingin menutup jalan kuda, ski kayu jadi satu-satunya cara turun.

    Tetua Tserani menyimpan senapannya di bahu, bahkan saat berdoa.

    Kalde Ice Pass: pelana gletser lebar di antara puncak gelap, celah es, tumpukan batu penanda, satu menara kosong di tepi es.

    Kalde Ice Pass

    Celah gletser di antara dua puncak. Retakannya bergeser tiap minggu. Menara di tepinya kosong sejak 1860, dan tidak ada yang mau bilang kenapa.

    Kuda di musim panas, ski kayu saat salju menutup jalan.

    Duel pedang dan flintlock, satu tembakan sebelum isi ulang.

    Mode foto pelat kaca: potret seseorang hari ini, bandingkan dengan pelat Kessing besok.

    Meja dewan kayu walnut dari atas: kain wol, tiga lilin, tempat tinta, dua cangkir tanah liat, kursi di kedua sisi, lantai batu tulis basah.

    19 Oktober 1891, dewan tetua di Ozhgali Tower

    Siapa yang Menembak

    Seseorang menembak dari Mill Bridge saat lonceng pukul enam sore. Lima tersangka, enam saksi, dan tiap keluarga membela orangnya sendiri. Satu susunan saja yang cocok dengan semua kesaksian.

      Papan kapur dewan

      Panah untuk pindah sel. Enter atau klik memutar: kosong, silang, centang. Begitu satu orang dicentang di Mill Bridge dan pukul 18.00, dewan membaca papan.

      Papan masih kosong. Dewan menunggu.

      Tiga keledai dengan ski kayu terikat di muatan dan seorang pejalan melintasi celah bersalju, satu menara jauh di belakang.
      No. 1, Celah Kalde, hari pertama

      Empat puluh pelat

      Aurel Kessing, juru foto keliling dari TiflisDitulis di Ushkari, akhir Oktober 1891. Disimpan di kotak pelat, di bawah sekat kedua.

      Aku datang ke Ushkari dengan dua kuda beban, satu kamera kayu, dan sembilan puluh pelat kaca yang dibungkus jerami. Pemandu dari bawah berhenti di jembatan terakhir. Katanya orang asing boleh naik, tapi kabar tentang orang asing naik lebih cepat.

      Menara pertama kulihat dari bawah awan. Lima lantai, pintunya di lantai dua, tangganya bisa ditarik masuk. Tiap keluarga punya satu. Tiap menara punya daftar nama yang belum dibalas. Mereka menyebutnya hutang, dan mereka mengucapkannya pelan.

      Kamera pelat kayu di atas tripod di kaki menara batu, kain hitam tersampir, kotak pelat terbuka di tanah basah.
      Pelat No. 9. Kamera di kaki menara Bekhvani. Pemiliknya baru mau berdiri di depan lensa setelah aku makan garamnya.

      Aku memotret dari pagi sampai cahaya habis: empat puluh menara dalam sembilan hari. Pelat kolodion basah tidak mau menunggu. Begitu dilapisi, aku punya sepuluh menit untuk membuka lensa, menghitung sampai dua belas, lalu mencucinya di tenda gelap sebelum lapisannya kering. Anak-anak mengintip dari celah tenda. Mereka kira aku mencuri sesuatu dari menara mereka.

      Di lapangan Lashkhet aku meminta lima keluarga berdiri dalam satu foto. Butuh dua hari untuk membujuk mereka. Syaratnya, tidak ada yang berdiri di sebelah musuhnya, dan tidak ada senjata yang diletakkan. Mereka diam selama dua belas hitungan. Tidak satu pun berkedip.

      Satu keluarga menara berpose kaku di depan pintu kayu berpaku besi: tetua duduk bertongkat, lelaki dan perempuan berdiri, anak laki-laki memeluk anjing.
      Pelat No. 17. Keluarga Margveli di pintu menara mereka. Anak itu memaksa anjingnya ikut.

      Dua minggu kemudian kabar pertama datang di atas kuda yang dipacu terlalu keras. Ketino Bekhvani, perempuan di kelompok paling kiri pada pelat No. 2, ditemukan di saluran air. Seminggu kemudian Guram Ozhgali. Aku membuka kotak dan menjajarkan pelat di atas salju. Urutannya sama. Mereka mati mengikuti nomor yang kutulis sendiri dengan pensil.

      Kotak ini tidak pernah lepas dariku, kecuali satu malam di menara Dadiani, saat badai menutup celah dan aku tidur di lantai tiga. Nino Dadiani yang membukakan pintu malam itu. Dia juga yang pertama bertanya kenapa nomor di sudut pelat No. 23 ditulis dengan tangan yang bukan tanganku.

      Isi kotak pelat dari atas: deretan negatif kaca di alur kayu, satu pelat retak, sebatang pensil dan secarik catatan terlipat.
      Kotak pelat setelah dihitung ulang. Satu retak. Satu hilang.

      Aku menulis ini supaya ada yang tahu urutannya. Kalau dewan tetua mau membaca, pelat-pelat ini bisa dibaca seperti kesaksian. Kalau tidak, aku cuma orang asing dengan kotak penuh nama.

      A. K.

      Isi

      Pelat 41 sampai 44 di kotak ini bukan foto. Isinya aturan main situs dan game, ditulis Collodion Interactive.

      1. Privasi Pelat 41
      2. Ketentuan Pelat 42
      3. EULA Pelat 43
      4. Bantuan Pelat 44

      Trailer Dunia

      Tidak bisa diputar di sini? Buka di YouTube